Masalah Serius Jam Gadang, Dinding Retak

Rabu, 07 April 2010



KOMPAS.com - Dalam rangka merehabilitasi Jam Gadang, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) yang bekerjasama dengan Kedutaan Besar Belanda di bawah program Shared Heritage Fund, serta mitra-mitra BPPI seperti Universitas Bung Hatta (UBH), Padang, telah membentuk Tim Rehabilitasi Jam Gadang (TRJG).

Tim yang sudah dibentuk BPPI ini bekerjasama dengan Universitas Bung Hatta (UBH). Tim inilah yang kemudian merekomendasikan agar dilakukan pengukuran ulang terhadap Jam Gadang dengan menggunakan 3D Laser Scanner Photogramettry untuk melihat struktur bangunan. Untuk ini tim Jam Gadang bekerjasama dengan Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur.

Selain itu, TRJG juga merekomendasikan perlunya ekskavasi arkeologis untuk mengetahui ukuran, bentuk, dan bahan fondasi Jam Gadang. Sejarah konstruksi bangunan dan teknologi bangunan, serta penelitian terhadap jenis bahan yang digunakan juga harus dilakukan.

Dari pengukuran ulang yang dilakukan TRJG dengan menggunakan 3D Laser Scanner Photogramettry, ditemukan adanya kemiringan sekitar dua derajat. Kemiringan itu terjadi dari lantai satu hingga empat. Pada level satu dan dua kemiringan cenderung ke arah barat sedangkan pada level tiga kemiringan cenderung ke arah timur, dan pada level empat ke arah barat.

“Tapi tidak ada data apakah kemiringan itu terjadi setelah gempa atau sebelum gempa,” kata Jonny Wongso dari TRJG beberapa waktu lalu di Bukittinggi.

Sebelumnya, dalam pertemuan di Jakarta, Ivindra dari Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) - Institut Teknologi Bandung (ITB) menjelaskan, soal kemiringan adalah soal struktur. Kalau tidak menunjukkan satu arah yang dominan, itu bukan kemiringan serius. Bisa saja disebabkan oleh waktu, gempa. Kemiringan itu bisa ditoleransi, adanya retak-retak itu malah yang bahaya dan harus segera diperbaiki,” paparnya.

Ia menambahkan, jika retakan itu bukan retakan pada fondasi bangunan Jam Gadang , hal itu bisa dikatakan tidak serius. “Tapi memang harusnya ada evaluasi struktur menyeluruh, perlu data mengenai bahan dan fondasi. Ini untuk ke depannya. Karena tidak ada catatan kondisi Jam Gadang sebelum gempa,” tandas Ivindra.

Sementara itu, Han Awal, arsitek senior yang juga pakar dalam bidang pemugaran, menambahkan, dalam rangka rehabilitasi Jam Gadang, tim harus mengupayakan langkah ke arah perbaikan, bagaimana supaya pada gempa berikutnya bangunan itu bisa tahan. Maka itu, katanya, perlu ada analisa konstruksi historis.

Contoh dalam konstruksi historis itu, misalnya, pada umumnya pada abad 17 dan 18 Belanda mendirikan bangunan di pantai dengan menggunakan konstruksi tanpa semen. Perekatnya pada umumnya pasir dan kapur.

“Kadang-kadang menggunakan putih telur. Dinding diplester kemudian diberi lapisan kapur. Lembap yang terjadi karena rembesan air, tak sempat naik dan mengenai konstruksi kayu karena kena terik matahari. Tapi yang terjadi dalam perawatan, biasanya cat dinding tidak menggunakan kapur tapi cat akrilik. Hasilnya malah lembap lebih cepat langsung ke konstruksi kayu,” jelas Han. Artinya, bahkan perawatan kecil pun perlu memahami kaidah konservasi sehingga yang namanya perawatan bukan malah merusak.

Ia menambahkan, “Pada tahun 1926 itu teknologi beton bertulang mungkin sudah digunakan. Tapi beton bertulang yang teknologinya tidak seperti sekarang. Jadi mengenal metodologi pembangunan dari periode tertentu, itu perlu diingat dalam menangani konservasi bangunan,” ucap Han.

Tak lupa ia mewanti-wanti agar sebisa mungkin tim tidak mengubah apapun pada bangunan yang dikonservasi. “Jangan lupa, jamnya juga perlu diperiksa terkait kemiringan,” imbuhnya.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

0 komentar:

Poskan Komentar